Sampang, 07 Dzulhijjah 1445 H / 13 Juni 2024 M
Dalam upaya meningkatkan kualitas penguasaan ilmu alat dan mencetak kader pengajar masa depan, Pondok Pesantren Gedangan secara resmi mengutus 9 orang santri pilihan untuk mengikuti kegiatan Training Takhossus Metode Al-Miftah yang diselenggarakan oleh Al-Miftah Daerah((MIFDA) Sampang. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 13 Juni 2024 M bertepatan dengan 07 Dzulhijjah 1445 H, bertempat di Pondok Pesantren Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri – Wilayah Sampang.
Pelatihan Intensif untuk Kader Pengajar Kitab Kuning
Pelatihan ini merupakan bagian dari program penguatan metode Takhossus Al-Miftah, yaitu sistem belajar cepat membaca kitab kuning melalui penguasaan ilmu nahwu dan sorof yang terstruktur, praktis, dan aplikatif. Metode ini terbukti memudahkan santri memahami kaidah-kaidah bahasa Arab dan mengaplikasikannya secara langsung dalam pembacaan kitab gundul.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan bimbingan langsung dari tim Tatimmah Sidogiri yang telah teruji dan berpengalaman dalam mengimplementasikan metode Al-Miftah di berbagai pondok pesantren. Materi yang diajarkan meliputi pengenalan sistem Takhossus, penggunaan sifir sorof, teknik pembacaan pegon, serta metode pengajaran efektif dalam kelas.
Misi Regenerasi Pengajar di Pondok Pesantren Gedangan
Keterlibatan santri Gedangan dalam training ini bukan sekadar untuk meningkatkan kapasitas pribadi, melainkan juga menjadi bagian dari strategi besar pondok dalam melakukan regenerasi pengajar. Hal ini ditegaskan oleh salah satu pengasuh Pondok Gedangan KH. Ma’ali Zainal Abidin, yang menyatakan bahwa santri yang dikirim diharapkan menjadi pelopor pengembangan metode Al-Miftah di lingkungan internal pondok.
“Kami memandang penting adanya kaderisasi pengajar dari kalangan santri sendiri. Dengan mengikuti training ini, mereka akan memiliki bekal metodologis dan teknis dalam mengajar ilmu alat kepada adik kelasnya. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan sistem pengajaran kitab kuning di Pondok Gedangan,” ungkap beliau.
Antusiasme Peserta dan Harapan Ke Depan
Salah satu peserta training, Muhammad Ubaydillah, mengungkapkan antusiasmenya terhadap pelatihan ini. Menurutnya, materi disampaikan dengan bahasa yang ringan namun penuh makna, membuat peserta tidak hanya memahami secara teori tapi juga langsung bisa mempraktikkan pembacaan kitab dengan metode yang diajarkan.
“Kami belajar sifir sorof dengan pola yang sangat mudah diingat. Teknik membaca kitab pegon juga diajarkan dengan sangat rinci. Ini pengalaman berharga, dan insyaAllah akan kami tularkan kepada teman-teman santri di Gedangan,” jelasnya.
Dukungan Penuh dari Pondok
Pondok Pesantren Gedangan sendiri memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, mulai dari proses seleksi internal santri, pembekalan awal, hingga fasilitasi keberangkatan dan pemantauan hasil training. Para santri yang telah selesai mengikuti pelatihan akan kembali ke pondok dan diminta menyampaikan materi yang didapat melalui program “Transfer Ilmu”, baik dalam bentuk kelas tambahan maupun mentoring langsung di halaqah-halaqah ilmu alat.
Penutup
Training Takhossus Al-Miftah oleh MIFDA Sampang tahun 2024 ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat budaya ilmiah di kalangan pesantren, khususnya dalam menjaga warisan keilmuan klasik Islam yang berbasis pada kitab kuning. Bagi Pondok Pesantren Gedangan, pengiriman 9 santri ke pelatihan ini adalah langkah konkrit menuju pondok yang lebih mandiri dalam hal pengajaran ilmu alat, serta membangun sistem pendidikan berbasis kaderisasi yang berkelanjutan.
“Al-Miftah bukan hanya metode cepat membaca kitab. Ini adalah metode membangun kepercayaan diri santri dalam memahami warisan ulama salaf secara otentik.” – Salah satu pemateri.


